Wearetheyouth’s Weblog











PENDAPAT PARA TOKOH MENGENAI KANG DADA :

1. KH. Miftah Faridl, Ketua MUI Kota Bandung
”Pak Dada Rosada seorang pekerja keras, berpengalaman, dan kemudian banyak ide untuk memajukan Kota Bandung ini serta dekat dengan agama. Selama lima tahun kepemimpinan Dada Rosada dengan tujuh program priorotasnya sudah sangat berhasil dalam membangun keakraban umat beragama, sehingga Kota Bandung semakin kondusif. Banyak perubahan yang terjadi di Bandung, meski pun dulu telah ada, namun sejak kepemimpinan Pak Dada ini luar biasa peningkatannya”.

2. Irjen Pol Susno Duadji, Kapolda Jawa Barat
”Selama kepemimpinannya sebagai Wali Kota Bandung, Pak Dada Rosada senantiasa mengambil kebijakan yang agamis, di antaranya melalui pemberantasan penyakit masyarakat seperti perjudian, prostitusi. Ia juga sosok yang merakyat dan sangat concern terhadap kemajuan lingkungan Kota Bandung. Memiliki cita-cita yang bagus sekali untuk Kota Bandung, di antaranya, ingin menyediakan tempat khusus bagi pedestrian (pejalan kaki) dan tempat-tempat berjualan yang layak bagi para PKL di Kota Bandung. Karena itu, saya sangat mengapresiasi kinerja yang telah ditunjukan Pak Dada selama ini”.

3. Nu’man Abdul Hakim, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat
”Kalau saya sejak dulu terbuka kepada Pak Dada, karena memang Pak Dada sangat nyambung dengan saya. Misalnya, ketika saya menyebut Cikapundung Bersih, dia nyambung. Ketika dia menyebut taman kota, dia pun nyambung, Tegallega kita sebut menjadi taman kota internasional, juga nyambung. Karena itu, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Pak Dada, bahwa ternyata Kota Bandung yang nyaris terhuyung kemudian terangkat dengan bagus. Bagi saya, Pak Dada telah berhasil mengantar Kota Bandung dari posisinya yang sebelumnya terpuruk, untuk kemudian bangkit kembali. Sekarang kita dapat melihat, trotoar bagus-bagus juga taman kotanya. Memang ada bagian-bagian yang juga sering saya kritik. Misalnya ketika lampu taman mati, lampu-lampu di jalan Braga tidak nyalan dan sebagainya. Tetapi secara mendasar, Pak Dada sudah masuk ke wilayah pananganan yang mendasar, sehingga banyak perubahan dan kemajuan luar biasa yang dialami Kota Bandung selama kepemimpinannya. Jadi dalam pandangan saya, Pak Dada termasuk yang memiliki semangat bagus untuk membangun kota ini. Dan saya kira masyarakat pun turut memberikan apresiasi kepada beliau….”.



{Juli 15, 2008}   Usep_Nandar

Saya mahasiswa ITB tidak percaya sama sekali nama besar ITB dalam hal ini Lembaga penelitian ITB yang diketuai oleh DR. ARI PASEK menggadaikan/melacurkan lembaganya sendiri apalagi hanya untuk kepentingan seorang walikota. Janganlah berprasangka buruk dulu (prejudice) yang sungguh dan sangat dihormati oleh para alumnusnya. Perbedaan pendapat bisa-bisa saja terjadi tapi semuanya harus dengan pengkajian secara ilmiah. Sedangkan calon walikota Taufikurahman pun (Alumnus ITB) dihargai hanya 50 juta, 500 juta pun Taufikurahman tidak akan mau. Jangan menghina alumnus ITB.
Apakah anda seorang yang terdidik ataukah tidak punya moral??

YANTO, ITB (Institut Teknologi Bandung)



Menurut pendapat saya adakan saja forum debat publik antara yang pro dan kontra. saya pernah membaca di PR beberapa bulan yang lalu DR. Ari Pasek menantang para pakar untuk berdebat secara terbuka dan ilmiah sekalipun pakar dari luar negri. saya sebagai salah seorang warga cempaka arum yang non partai menangkap nuansa PLTSa kota Bandung dijadikan komoditi politik oleh pihak yang berlawanan dengan incumbent (Dada Rosada). sebaiknya masyarakat griya cempaka arum diberikan pencerahan2 yang maksimal dari pakar maupun PEMKOT, ada TOKOH-TOKOH TERTENTU di GCA yang seolah-olah menghalangi atau tidak menginginkan terjadinya forum dialogis, kondisi ini dipelihara terus untuk kepentingan individu-individu tokoh tersebut yang dikendalikan oleh partai politik tertentu. warga GCA ditakut-takuti tanpa diberi informasiyang benar, akurat dan seimbang seolah-olah GCA akan mengalami bencana hebat. mudah-mudahan pendapat saya bisa dibaca oleh semua pihak yang berkepentingan dan bisa dilaksanakan untuk kepentingan khususnya warga GCA dan umumnya warga kota Bandung.



menurut pendapat saya adakan saja forum debat publik antara yang pro dan kontra. saya pernah membaca di PR beberapa bulan yang lalu DR. Ari Pasek menantang para pakar untuk berdebat secara terbuka dan ilmiah sekalipun pakar dari luar negri. saya sebagai salah seorang warga cempaka arum yang non partai menangkap nuansa PLTSa kota Bandung dijadikan komoditi politik oleh pihak yang berlawanan dengan incumbent (Dada Rosada). sebaiknya masyarakat griya cempaka arum diberikan pencerahan2 yang maksimal dari pakar maupun PEMKOT, ada TOKOH-TOKOH TERTENTU di GCA yang seolah-olah menghalangi atau tidak menginginkan terjadinya forum dialogis, kondisi ini dipelihara terus untuk kepentingan individu-individu tokoh tersebut yang dikendalikan oleh partai politik tertentu. warga GCA ditakut-takuti tanpa diberi informasiyang benar, akurat dan seimbang seolah-olah GCA akan mengalami bencana hebat. mudah-mudahan pendapat saya bisa dibaca oleh semua pihak yang berkepentingan dan bisa dilaksanakan untuk kepentingan khususnya warga GCA dan umumnya warga kota Bandung.



10 ALASAN MEMILIH H. DADA ROSADA :

 

1. Sebagai komitmen membangun Kota Bandung, H. Dada Rosada perlu dipilih kembali melanjutkan amanah untuk penataan dan pembangunan kota Bandung,

 

2. Kebijakan H. Dada Rosada tentang 7 prioritas pembangunan kota yang sudah berjalan dan sesuai kebutuhan objektif masyarakat Kota Bandung harus dipertahankan keberlanjutannya,

 

3. Kota Bandung sebagai Ibu Kota Provinsi memiliki tantangan yang lebih besar, dan komopleks sehingga membutuhkan figur walikota yang berwatak pekerja keras dan sudah berpengalaman, yang sudah tampak nyata pada diri H. Dada Rosada,

 

4. Masyarakat Kota Bandung yang majemuk membutuhkan sosok walikota yang mampu mengayomi dan memiliki kemampuan bergaul dengan berbagai kalangan,

 

5. Komitmen H. Dada Rosada terhadap lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, yang terwujud melalui gerakan sejuta pohon, menjadikan Tegal Lega menjadi ruang terbuka hijau dll.

 

6. Kebijakan H. Dada Rosada senafas dengan ruh keislaman yakni amar ma’ruf nahi munkar dalam penutupan lokalisasi prostitusi Saritem, pemberantasan perjudian dan penyakit masyarakat lainnya,

 

7. Figur H. Dada Rosada sebagai umaro dekat dengan Ulama dan bersinergi dengan Ormas-ormas Islam,

 

8. Program pembangunan yang digulirkan H. Dada Rosada sangat terukur sehingga dapat diakses langsung oleh masyarakat seperti Kota Agamis 2008, Bandung Cerdas 2008, Bandung Sehat 2007, Bandung Makmur 2008, Bandung Hijau 2006, Bandung Berprestasi 2008, Bandung Kota Seni dan Budaya 2008,

 

9. Kebijakan H. Dada Rosada yang ingin mewujudkan Bandung Kota Agamis merupakan cermin pemimpin yang memilki integritas dan komitmen moral keagamaan,

 

10. Profil H. Dada Rosada relatif memenuhi syarat kriteria ideal pemimpin yang telah digariskan Agama, Yakni : Sidiq (Benar), Fathonah (Cerdas), Amanah (Jujur) dan Tabligh (Komunikatif)



10 ALASAN MEMILIH H. DADA ROSADA :

 

1. Sebagai komitmen membangun Kota Bandung, H. Dada Rosada perlu dipilih kembali melanjutkan amanah untuk penataan dan pembangunan kota Bandung,

 

2. Kebijakan H. Dada Rosada tentang 7 prioritas pembangunan kota yang sudah berjalan dan sesuai kebutuhan objektif masyarakat Kota Bandung harus dipertahankan keberlanjutannya,

 

3. Kota Bandung sebagai Ibu Kota Provinsi memiliki tantangan yang lebih besar, dan komopleks sehingga membutuhkan figur walikota yang berwatak pekerja keras dan sudah berpengalaman, yang sudah tampak nyata pada diri H. Dada Rosada,

 

4. Masyarakat Kota Bandung yang majemuk membutuhkan sosok walikota yang mampu mengayomi dan memiliki kemampuan bergaul dengan berbagai kalangan,

 

5. Komitmen H. Dada Rosada terhadap lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, yang terwujud melalui gerakan sejuta pohon, menjadikan Tegal Lega menjadi ruang terbuka hijau dll.

 

6. Kebijakan H. Dada Rosada senafas dengan ruh keislaman yakni amar ma’ruf nahi munkar dalam penutupan lokalisasi prostitusi Saritem, pemberantasan perjudian dan penyakit masyarakat lainnya,

 

7. Figur H. Dada Rosada sebagai umaro dekat dengan Ulama dan bersinergi dengan Ormas-ormas Islam,

 

8. Program pembangunan yang digulirkan H. Dada Rosada sangat terukur sehingga dapat diakses langsung oleh masyarakat seperti Kota Agamis 2008, Bandung Cerdas 2008, Bandung Sehat 2007, Bandung Makmur 2008, Bandung Hijau 2006, Bandung Berprestasi 2008, Bandung Kota Seni dan Budaya 2008,

 

9. Kebijakan H. Dada Rosada yang ingin mewujudkan Bandung Kota Agamis merupakan cermin pemimpin yang memilki integritas dan komitmen moral keagamaan,

 

10. Profil H. Dada Rosada relatif memenuhi syarat kriteria ideal pemimpin yang telah digariskan Agama, Yakni : Sidiq (Benar), Fathonah (Cerdas), Amanah (Jujur) dan Tabligh (Komunikatif)



Much like Five for Fighting or Dashboard Confessional both musically and in theory, Secondhand Serenade is a project name for a solo artist, singer/songwriter John Vesely. Raised in the San Francisco Bay Area in a musical family that included his professional jazz musician father, Vesely spent a number of dues-paying years in a variety of local bands before switching from bass to acoustic guitar and beginning to write his own songs. (In his official artist bio, Vesely claims that the inspiration for the band name Secondhand Serenade is the fact that all of his autobiographical songs are directed first and foremost to his wife, thereby making the audience mere bystanders to their pas de deux; he seems not to notice that some potential listeners might find this attitude a bit condescending.) Vesely recorded his debut album, Awake, in 2005, originally self-releasing the disc and selling it through his MySpace page and iTunes. Online buzz led to a deal with Glassnote Records, a pseudo-indie funded and distributed by the Warner Bros. offshoot The Independent Label Group. Glassnote released an expanded version of Awake in February 2007. ~ Stewart Mason, All Music Guide



Program 3R tidak semua sampah bisa di 3R kan. Contohnya negara2 maju yg sudah melakukan 3R : Singapura Jepang dan negara2 Eropa tetap memerlukan PLTSa bahkan 3R  memerlukan waktu yg lama dan bersekala nasional karena menyangkut berjalan dgn baik. Contoh untuk dapat melakukan program reduce, masyrakat harus mampu memilih produk yang tidak banyak menimbulkan sampah, menolak menggunakan pembungkus atau plastik kresek, tapi membawa keranjang sendiri dari rumah yg bisa digunakan berkali-kali. Reuse hanya bisa dilakukan kalau bahan2nya memang bisa di Reuse dgn aman, Reuse tidak bisa mengurangi sampah tapi hanya memperpanjang pemanfaatan akhinya setelah berkali-kali di reuse tetap harus dibuang. bisa menimbulkan salah tafsir misalkan botol aqua bisa di reuse tanpa proses dsb. di negara maju recycle dilakukan oleh industri, masyarakat hanya diminta memilih dan membuang pada tempat yang benar, tdk mungkin masyarakat diminta me-recycle sendiri. sampahnya per kapita lebih banyak dari Indonesia.

 

ARI DARMAWAN, ITB



COMMON…COMMON…LET’S GIVE OUR SUPPORTS TO ELECT DADA-AYI IN PILWALKOT KOTA BANDUNG 2008!!!



{Juli 12, 2008}   Masalah PLTSa Bandung

Berikut komentar kami atas surat pembaca Pak Otto S. S, (Almarhum)  harian kompas 26 Desember 2007:

1. Biaya ke PLTSa Rp. 285.000. per ton adalah lebih kecil dari total biaya pembuangan sampah ke Sarimukti yang mencapai Rp. 298.000 per ton. Membuang sampah ke TPA juga bayar. Jadi wajar kalau pemusnahan sampah di PLTSa juga bayar. Diseluruh dunia membuang/memusnahkan sampah harus bayar. PLTSa bukan pembangkit listrik tapi pemusnah sampah, listrik hanya sisa produk yang dapat digunakan untuk menutupi sebagian biaya operasi.

 

2. Kapasitas PLTSa yang akan dibangun 500 sampai 700 ton perhari adalah sama dengan jumlah seluruh sampah yang diangkut ke TPA saat ini.

 

3. Tambahan subsidi pemerintah daerah ke PD. Kebersihan sifatnya untuk peningkatan pelayanan dan kenaikan gaji karyawan yang rata-rata masih di bawah UMR (mohon dikonfirm ke PD. Kebersihan). Subsidi pemerintah daerah dapat dikurangi jika jumlah pembayar iuran sampah meningkat dari 30% saat ini menjadi 75 sampai 90% dari yang wajib membayar iuran.

 

4. Bergantung pada PKS yang saat ini sedang dirumuskan.

 

5. PLTSa metan yang dimaksud Pak Otto masih memerlukan TPA, padahal penyebab utama bencana sampah di Bandung adalah tidak adanya lahan di Kota Bandung atau dekat Bdg yang bisa dijadikan TPA. Penangkapan metan dari gundukan sampah tidak mudah dan murah. Metan yang ditangkap tidak bisa langsung digunakan untuk pembangkit listrik karena banyak kandungan gas lain yang harus dibersihkan. PLTSa yang akan di didirikan di Kota Bandung sudah dihitung oleh Eco-Security dengan menggunakan metoda UNFCCC No. AM-025. Selisih jumlah CO2 yang bisa dihemat rata-rata adalah 150.000 ton CO2 pertahun dibandingkan dengan TPA saat ini.

 

6. Ketentuan kepemilikan listrik dan pembangkit diatur dalam Kepmen ESDM No. 1dan No. tahun 2006. Swasta boleh memiliki pembangkit, dan listriknya dijual ke PLN. MOU antara PLN dan PT. BRIL sedang dibahas (sudah bertemu 4X).

 

7. Performansi mesin dijamin oleh pembuatnya. Harga mesin cina memang 1/3 harga pasaran dunia.

 

8. Di Indonesia Dioxin belum diatur, belum ada standar baku mutunya, jadi sulit untuk ditetapkan dalam Amdal. Namun demikian dalam laporannya nanti akan dicantumkan baku mutu dioxin PLTSa Bandung, dan kewajiban pengukurannya. Simulasi pola penyebaran emisi sedang dilakukan oleh TIM Amdal.

 

9. Tungku pembakaran bertekanan negatif, kebocoran tidak keluar tetapi udara yang akan masuk ke dalam ruang bakar. Temperatur dalam tungku dijaga konstan, dan dilengkapi dengan burner minyak yang akan menyala apabila sampah tidak mampu menjaga suhu diatas 850 derajat. Sangat tidak relevan membandingkan PLTSa dengan Chernobyl apalagi Bhopal karena pabriknya tidak identik, mirip juga tidak. Chernobyl PLTN dengan teknologi kuno, Bhopal pabrik pestisida. Saat ini ada 400 PLTSa di Eropa, dan 1800 di Jepang, 5 di Singapore dan Ratusan lainnya di seluruh dunia. Sampai saat ini belum ada musibah yang terjadi.

 

                               Bandung, 28 Desember2007

 

          DR. ARI PASEK, LEMLIT ITB (Institut Teknologi Bandung)



dan lain-lain